Wednesday, 10 March 2010

Kata-Kata Bijak

"To err is human, but to really foul things up requires a computer."

Info Lowongan

Info Lowongan

Sitemap

Sitemap
Home arrow Klien
Pro dan Kontra Bahasa Kedua
Written by Psychosense   

 

Pro & Kontra Bahasa Kedua

“uno,dos, tres, Buenos dias senyor” di era globalisasi sekarang ini, anak – anak berbicara dalam bahasa asing misalnya yang ditiru dari tayangan televisi seperti sudah jadi hal biasa. Selain itu banyak taman kanak – kanak bahkan pre-school yang menjadikan bahasa asing sebagai bahasa pengantar.

 

Sebagian ahli pendidikan anak berpandangan bahasa asing sebaiknya diperkenalkan sedini mungkin, bila mungkin sejak bayi, karena masa kritis untuk mempelajari bahasa asing memang pada usia dibawah lima tahun. Semakin dini diperkenalkan maka anak semakin terbiasa dan otaknya akan terpola dengan lebih baik. Namun sebagian ahli lainnya berpendapat sebaliknya, anak harus menguasai bahasa ibu terlebih dahulu baru kemudian diperkenalkan pada bahasa asing. Sejumlah penelitian menunjukkan kelambatan atau masalah dalam perkembangan kemampuan berbahasa lebih banyak terjadi pada anak – anak yang dibesarkan dengan 2 bahasa, misal anak yang tinggal di negara asing atau ayah dan ibunya berasal dari dua kultur yang berbeda.

 

Aliran mana yang anda ambil, yang perlu diingat, saat memperkenalkan bahasa asing pada anak tidak perlu menetapkan target. Jangan menjadikan anak terpaksa mempelajari bahasa asing. Selain karena usia anak adalah usia bermain, dengan memaksa anak ‘belajar’ justru membunuh minatnya untuk menguasai bahasa tersebut.

 

Lakukan pembelajaran dalam konteks bermain menyenangkan. Misalnya dengan menonton VCD berbahasa asing yang memang ditujukan untuk anak – anak, sambil bernyanyi bersama atau membaca buku cerita bergambar. Bisa saja memasukkan anak ke tempat kursus, namun pilihlah yang metodenya dijalankan sambil bermain. Di tempat kursus anak akan lebih terdorong karena dilakukan bersama anak – anak lain. Guru privat didatangkan ke rumah sama sekali tidak disarankan karena suasana serius / formal dapat menimbulkan kesan menakutkan dan menjadi beban bagi anak. Konsistensi sebenarnya kunci utama. Idealnya, lingkunganpun harus mendukung. Tidak bias semata menggantungkan pada sekolah atau tempat kursus, orangtua pun harus turut berbahasa asing pada anaknya. Walau tidak sepenuhnya komunikasi dijalankan dalam bahasa asing tersebut, setidaknya setiap hari anak mendengar dan berkesempatan mencoba.

 

(Artikel ini dimuat di majalah Toddler – July 2006)
 
< Prev